Jalanan Bukan untuk 'Bertahan atau Dimakan', tapi Selamat sampai Tujuan - OTOASIA
Connect with us

Motor

Jalanan Bukan untuk ‘Bertahan atau Dimakan’, tapi Selamat sampai Tujuan

Eko Nugroho

Published

on

Ilustrasi mengendarai sepeda motor (Wahana Honda)
Ilustrasi mengendarai sepeda motor (Wahana Honda)

Otoasia.id – Jalanan bisa diibaratkan sebuah ekosistem tempat beraneka ragam mahluk hidup. Makanya ada semacam hukum alam yang berlaku dan secara gamblang mahsyur dengan “bertahan atau dimakan”.

Meski begitu, jalan raya bisa lebih kompleks lagi, karena tak hanya diisi oleh berbagai macam jenis kendaraan saja, tetapi juga diwarnai beragam perilaku pengendaranya. Kompleksitas ini yang rawan memicu senggolan, entah fisik maupun mental yang berisiko menimbulkan kecelakaan.

Ilustrasi mengendarai sepeda motor (Wahana Honda)

Ilustrasi mengendarai sepeda motor (Wahana Honda)

Oleh karena itu, di dalam diri pengguna jalan harus ditanamkan pentingnya keselamatan berkendara atau safety riding, apalagi bagi kaum pengguna kendaraan roda dua. Lantaran populasi mereka yang cukup besar dengan persentase lebih dari 50% memadati jalan raya.

“Hati- hati dan selalu waspada, adalah hal utama yang harus dimiliki pengguna jalan raya khususnya pengendara motor. Kecelakaan tidak hanya berpotensi dari kondisi jalanan, tetapi tidak jarang angka kecelakaan lebih banyak disumbang dari faktor kelalaian pengendara itu sendiri,” papar Agus Sani, Head of Safety Riding PT Wahana Makmur Sejati (WMS), yang juga merupakan bagian dari PT Wahana Artha Group (WAG).

Senada dengan Agus, Instruktur Senior PT WMS Siswanto juga mengungkapkan, “Jangan menggantungkan keselamatan diri di jalan pada pengendara lain, peraturan atau keadaan sarana jalan, tetapi awali pada setiap memutar tuas starter motor dengan rasa hati-hati, waspada, dan mementingkan keselamatan diri.”

Ilustrasi mengendarai sepeda motor (Wahana Honda)

Ilustrasi mengendarai sepeda motor (Wahana Honda)

Menurut dia, ketika akan menyetir di jalan, pengendara harus siap dengan segala kondisi yang mengancam. Makanya wajib untuk memakai atribut yang ideal dan kondisi motor harus prima. Setelah itu, ketika sudah turun di jalan, pengguna roda dua perlu sadar akan keadaan sekitar, layaknya seperti teknologi radar 360 derajat pada kendaraan roda empat.

Setiap pengendara setidaknya mengawasi dan mengontrol seluruh prilaku dan karakter pengguna jalan raya di sekitar supaya tubuh dan otak dapat memberikan reflek dengan kejadian di jalan. Penggunaan instrumen seperti kaca spion, lampu sinyal, dan klakson juga dapat membantu memberi tahu pengguna jalan lain.

Agus kemudian menambahkan, bahwa penerapan safety riding tak ubahnya seperti permainan tim bola basket yang tengah menggunakan mode defensif. “Seni bola basket defensif dikembangkan pada edukasi pengemudi roda empat, namun tidak ada salahnya diterapkan pada pengendara motor,” tuturnya.

Advertisement

Jadi, kalau setiap pengendara sepeda motor sudah menerapkan defensive safety riding di jalan raya, istilah “bertahan atau dimakan” semestinya tidak berlaku lagi.